Oleh: Alwi Alatas

(Mudir PRISTAC – Pesantren at-Taqwa, Depok)

Inpasonline.com-Dalam beberapa hari terakhir ini Indonesia dikejutkan oleh peristiwa terorisme. Pada Selasa 8 mei 2018 terjadi kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Depok, yang baru berhasil diatasi pada hari Kamis 10 Mei 2018. Disebabkan kejadian itu, 5 polisi dan seorang narapidana terorisme menjadi korban tewas. Pada hari-hari berikutnya berlaku lagi beberapa kejadian terkait terorisme di Bekasi, Depok, Cianjur, Sidoarjo, juga Surabaya, tempat sekelompok orang menjadikan sejumlah sasaran bom bunuh diri.

Keprihatinan atas rangkaian kejadian ini bertambah besar karena pelaku teror ada yang melibatkan anggota keluarga, termasuk istri dan anak-anak. Bukan hanya polisi yang seharusnya prihatin dan bekerja keras, melainkan para ulama pun sepatutnya bekerja keras untuk memberikan penjelasan yang benar dan tepat tentang masalah kenegaraan dan metode perjuangan.

Walaupun masih ada kritik terhadap cara-cara penanganan terorisme, tidak bisa dipungkiri bahwa tindakan terorisme di Indonesia adalah sesuatu yang nyata. Para pelaku aksi teror yang menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh agama Islam, memang mewujud di tengah masyarakat Indonesia. Para pelaku teror ini tak jarang melakukan aksinya dengan merujuk kepada dalil-dalil tertentu dari kitab suci.

Sebenarnya, hal semacam ini bukan hal baru dalam sejarah Islam. Sebut saja misalnya kelompok Assassin yang muncul di Iran, Irak, dan Suriah menjelang dan di sepanjang zaman Perang Salib (yang dimulai 1095 M). Kelompok ini menggunakan cara-cara teror berupa pembunuhan tokoh-tokoh penting yang dianggap sebagai musuhnya, terutama dari kalangan Abbasiyah dan Saljuq. Mereka berhasil menciptakan kekacauan dan rasa takut yang kuat pada awalnya. Tapi, dalam jangka panjang aksi mereka justru menimbulkan kebencian masyarakat luas dan menyebabkan mereka akhirnya tersingkir dari sejarah.

Assassin merupakan kelompok pecahan Syiah Ismailiyah yang didirikan oleh Hasan al-Sabbah (w. 1124) di Iran. Ia merupakan penganut Syiah Ismailiyah yang berhasil menghimpun banyak pengikut, khususnya di kawasan Dailam dan Mazandaran, Iran Utara. Pada tahun 1090, Hasan dan pengikutnya berhasil menguasai Alamut, sebuah benteng strategis yang terpencil di Pegunuhan Alborz, Dailam, yang kemudian diikuti oleh penguasaan beberapa benteng strategis lainnya di kawasan itu. Seperti ditulis oleh Bernard Lewis dalam bukunya Assassin (Yogyakarta: Haura, 2009, 74), “Bagi penduduk Dailam dan Mazandaran yang kecewa kepada pemerintah dan suka berperang, ajaran militan yang dibawa Hasan tampak begitu menarik.”

Kalangan Ismailiyah di Iran, yang hidup di wilayah kekuasaan Turki Saljuq yang berlawanan dengan mereka, sejak masa-masa sebelumnya telah berdakwah secara rahasia lewat sel-sel yang terpisah. Sel-sel ini kemudian menjadikan benteng-benteng yang telah dikuasai sebagai dār al-hijra atau negeri tempat hijrah yang dijadikan sebagai pusat operasi kelompok ini (Farhad Daftary, The Ismailis: Their History and Doctrines, Cambridge: Cambridge University Press, 2007, 327-328).

Hasan al-Sabbah sendiri kemudian mengembangkan metode baru dalam perjuangannya. Yakni, dengan melatih anak buahnya untuk melakukan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik dan agama yang berseberangan. Pada 10 Ramadhan 485 H yang bertepatan dengan Oktober 1092 Masehi, Nizam al-Muluk, wazir Turki Saljuk yang berperan besar dalam mengokohkan kekuasaan dinasti itu, menjadi korban pembunuhan seorang pemuda Assassin (Ibn al-Athir, The Annals of the Saljuq Turks, London: RoutledgeCurzon, 2002, 253).

Kurang lebih sebulan kemudian, Sultan Turki Saljuq, Maliksyah, meninggal dunia, yang segera diikuti dengan terjadinya perang sipil di antara sanak keluarganya. Metode al-Sabbah, setidaknya pada masa itu, berhasil menciptakan perpecahan dan kekacauan di pemerintahan Saljuq yang memungkinkan kelompok Assassin meluaskan pengaruhnya.

Metode pembunuhan terus dilakukan oleh kelompok Assassin pada masa-masa berikutnya dan membuatnya dikenal dengan nama ini. Makna kata assassin dalam bahasa Inggris yang menurut Cambridge English Dictionary bermakna “someone who kills a famous or important person” dapat dikatakan diambil dari metode yang dikembangkan oleh kelompok yang sedang dibahas ini.

Kata itu sendiri berasal dari bahasa Arab hasyisy (hasyasyin) yang merujuk pada sejenis tanaman candu yang dianggap digunakan oleh kelompok ini untuk mendapatkan efek surgawi atau justru sebagai bentuk cemoohan kejijikan terhadap mereka oleh lawan-lawannya (Lewis, Assassin, 27-29). Kalangan Ahlus Sunnah sendiri lebih sering menyebut mereka sebagai kelompok Batiniyah.

 

Bunuh diri

Sekumpulan anggota Assassin yang disebut sebagai fida’i dilatih secara khusus untuk loyal sepenuh hati terhadap pemimpinnya dan siap untuk melakukan misi bunuh diri, karena mereka hampir tidak mungkin meloloskan diri setelah melakukan aksinya. Para fida’i ini diberi keterampilan menyamar dan menyusup, bahkan ditanam sebagai orang kepercayaan calon korbannya, untuk sewaktu-waktu “dibangunkan” dan serta merta menjalankan aksi pembunuhannya.

Menurut Marshall Hodgson  dalam The Order of Assassin (‘s-Gravenhage: Mouton, 1955, 83), keberanian mereka dalam melakukan aksi bunuh diri ini didorong oleh motivasi pribadi dan sosial, seperti yang digambarkan lewat kisah ibu yang bergembira saat mendengar puteranya mati terbunuh dalam menjalankan tugas dan meratap sedih saat puteranya pulang dengan selamat. Keberanian mereka juga tampaknya dipengaruhi oleh doktrin kelompok ini yang menyebutkan bahwa “dengan mati menjalankan tugas berarti mereka telah menggunakan tubuh mereka untuk mensucikan jiwa mereka demi meraih alam cahaya.”

Banyak tokoh yang menjadi korban Assassin yang kadang diperlakukan dengan keji untuk menciptakan ketakutan terhadap musuh. Khalifah Abbasiyah al-Mustarsyid, misalnya, diserang di tendanya oleh 24 anggota Assassin hingga mati terbunuh. Kuping dan hidungnya dimutilasi dan tubuhnya ditelanjangi (Ibn al-athir, The Chronicle of Ibn al-Athir for the Crusading Period, part 1, Aldershot: Ashgate, 2006, 318).

Bagaimanapun, seperti ditulis oleh Amin Malouf dalam The Crusades through Arab Eyes, kebanyakan aksi mereka dilakukan di tengah keramaian. “Itulah sebabnya mengapa lokasi (pembunuhan) yang disukai adalah masjid, hari favoritnya adalah Jum’at, dan pada umumnya (dilakukan) pada tengah hari.”

Hal ini menimbulkan rasa takut yang hebat di kalangan banyak pemimpin Muslim, sehingga memaksa beberapa pejabat selalu mengenakan baju besi dibalik pakaiannya (As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2010, 508). Menariknya, terutama pada masa-masa yang agak belakangan, para pemimpin tentara salib yang berada di wilayah Suriah-Palestina sejak penghujung abad ke-11 juga pada tingkat tertentu merasa takut terhadap kelompok ini. “Pemahaman kita tentang teror kaum Assassin yang dirasakan oleh penduduk wilayah-wilayah tentara Salib (di Suriah-Palestina, pen.) – ketakutan bahwa sewaktu-waktu, di tempat umum, lengah atas kelangsungan hidup mereka sendiri, seorang teroris mungkin menyerang – secara muram dihidupkan kembali oleh serangan teroris pada hari ini” (Michael Paine, The Crusades,  Vermont: Pocket Essentials, 2005, 15). Bagi kaum Assassin, tindakan teror yang mereka lakukan memiliki pembenaran tersendiri, yaitu “pembunuhan tokoh-tokoh penting … seringkali menyebabkan terhindarinya pertumpahan darah di antara banyak orang umum di medan peperangan” (Daftary, The Ismailis …, 328).

Kelompok Assassin berhasil meluaskan pengaruhnya hingga ke wilayah Suriah. Di kawasan itu, mereka juga berhasil menguasai sejumlah benteng di pegunungan dan mengatur strategi dari tempat itu. Beberapa pemimpin di Suriah bahkan sempat menjadi pengikut atau memfasilitasi pergerakan mereka. Teror demi teror dilakukan, tetapi ternyata hanya efektif dalam jangan pendek. Lama kelamaan, aksi-aksi mereka menimbulkan kebencian di tengah masyarakat. Mereka tidak pernah berhasil berbaur, apa lagi sampai merebut simpati masyarakat.

Di Aleppo pada awal abad ke-12, misalnya, mereka sempat didukung oleh pemimpin kota itu. Namun ketika pemimpin Aleppo itu wafat, kaum Assassin di kota itu dikejar dan dihukum mati oleh masyarakat, sehingga mereka terpaksa lari meninggalkan Aleppo. Hal yang sama terjadi pula kemudian di kota Damaskus ketika pemimpin yang melindungi mereka di kota itu wafat pada tahun 1128. Mereka segera menjadi sasaran kemarahan penduduk Damaskus.

 

Cara Al-Ghazali

Kelompok Assassin memang masih bertahan hingga abad berikutnya, sebelum sepenuhnya habis saat terjadi invasi Mongol ke dunia Islam. Bagaimanapun, mereka semakin lama semakin mundur dan kehilangan pengaruh.  Boleh dikatakan tidak ada yang membela mereka atau menulis kisah mereka sebagai para pahlawan. Kisah mereka berlalu di dalam sejarah Islam sebagai episode yang kelam dan tidak menarik untuk dinarasikan secara khusus.

Metode teror Assassin dimaksudkan untuk menghancurkan lawan-lawan mereka dan mengokohkan kembali pemerintahan Ismailiyah versi mereka. Tapi, hasil akhir yang didapat justru kebalikannya. Begitu kehilangan harapan kelompok ini pada masa-masa yang belakangan, sehingga ada di kalangan mereka yang di kemudian hari menulis ulang sejarah tokohnya sebagai seorang pembela Shalahuddin. Padahal, sejarah jelas-jelas mencatat bahwa ia pernah dua kali berusaha membunuh Shalahuddin.

Keadaannya justru terbalik di dunia Ahlus Sunnah yang pada ketika itu pun sempat mengalami kemunduran. Namun berkat peranan al-Ghazali (w. 1111) dan juga Nizam al-Muluk, dunia Sunni dapat kembali bangkit (Abdurrahman Azzam, Saladin, Harlow: Pearson, 2009, 14-15). Cara yang mereka tempuh sepenuhnya berbeda dibandingkan Assassin.

Al-Ghazali merekomendasikan tasawuf yang berperan mengembalikan spiritualitas ke dunia Islam, sementara pembangunan madrasah oleh Nizam al-Muluk menjadi tren yang diikuti oleh para pemimpin di era-era berikutnya. Dengan kata lain, jalan yang dipilih oleh dunia Sunni ketika itu adalah perbaikan jiwa masyarakat Muslim serta melalui jalan pendidikan. Keefektifan metode ini bahkan diakui dalam sebuah tulisan pada web Ismailiyah. Artikel itu menyebutkan bahwa, “Di dalam madrasah (metode pendidikan, pen.) … Sunni Islam menciptakan satu senjata yang baru dan penting dalam perjuangan untuk mencapai persatuan keagamaan” (http://www.ismaili.net/Source/1359b.html). Jalan pendidikan inilah yang kemudian melahirkan generasi baru yang memunculkan tokoh-tokoh hebat seperti Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Kegagalan Assassin, dan juga kebangkitan Ahlus Sunnah ketika itu, seharusnya memberi kita pelajaran yang penting dan perlu dipegang kuatkan. Bahwa, terorisme tidak akan pernah melahirkan kejayaan, dan sebaliknya pendidikan yang baiklah, yaitu pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang unggul dan beradab, yang lebih menjamin bagi tercapainya keunggulan dan kemenangan. Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Alatas, Dr. Alwi. “Kegagalan Metode Teror Assasin”. Republika. 17 Mei 2018. Hlm. 20.

Sumber foto: http://www.tribunnews.com