Zen bin Umar bin Sumaith

Ketua Umum Rabithah  Alawiyah

 

Umat Islam di dunia menyambut bulan suci Ramadhan dengan gembira. Tak terkecuali di Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar.

Persiapan tersebut tidak hanya dilakukan oleh umat Islam, tetapi pemerintah juga sibuk dengan usaha mengatur dan mempersiapkan kebutuhan Ramdhan dan menjaga agar tidak terjadi kekurangan pasokan pasar sehingga terjadi kenaikan harga berakibat kepada kenaikan inflasi.

Persiapan pada tingkat keluarga, tidak kalah sibuk, di mana para ibu mempersiapkan kebutuhan makanan yang tidak seperti hari-hari biasa. Konsumsi masyarakat meningkat selama bulan puasa. Karena sebenarnya, kita tidak mengurangi makan dan minum, tetapi hanya menggeser jam makan, bahkan meningkatkan kebiasaan makan kita dengan menu-menu istimewa. Tidak ketinggalan persiapan masjid-masjid untuk shalat Tarawih dan itikaf.

Tidak ada yang salah dengan kegiatan persiapan yang dilakukan umat Islam dalam menyambut bulan suci ini. Bahkan, bagi pemerintah merupakan keharusan untuk mengamankan segala kebutuhan bulan puasa ini agar umat Islam dapat beribadah dengan tenang.

Waktu berulang terus, tahun demi tahun, Ramadhan mengunjungi kita tanpa kita bisa memanfaatkan secara maksimal, rahasia yang ada di dalamnya, diturunkannya Alquran dan Lailatur Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Masih banyak diantara kita yang menyia-nyiakan keistimewaan bulan suci ini, karena belum mengetahui rahasia ibadah puasa yang bersifat batiniah. Kebiasaan melakukan ghibah, namimah, dan menghina hamba Allah yang lain kadang kita masih lakukan.

Selain ketentuan fikih yang menjadi rukun puasa, tidaklah berlebihan jika kita mengevaluasi diri bahwa puasa kita baru pada tingkat lahiriah. Padahal, substansi ibadah puasa adalah ibadah yang sangat personal, di mana ketaatan makhluk dengan Khalik diuji. Ibadah yang bersifat batiniah. Allah SWT berfirman dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” Di dalam ayat ini, Allah SWT menekankan di akhirnya kalimat “agar engkau bertakwa.”

Demikian pula, Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi, “Semua amal perbuatan anak Adam adalah miliknya, kecuali shaum, karena sesungguhnya (amal) shaum hanyalah kepunyaan-Ku. Akulah yang akan memberi pahalanya. Shaum adalah benteng, apabila seseorang di antara kalian berada pada siang hari, hendaknya ia tidak mengucapkan kata-kata yang kotor, dan janganlah ia bertengkar. Apabila ada seseorang yang mencacinya, atau mengajaknya untuk berkelahi, hendaklah ia mengatakan (kepadanya), ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa, benar-benar lebih wangi daripada bau minyak kasturi di sisi Allah. Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan, yaitu apabila berbuka, ia berbuka dengan gembira, dan apabila menemui Rabbnya, ia gembira dengan pahala puasanya. (Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, dalam sahih Bukhari dan Muslim).

Suatu kesempatan yang perlu disyukuri jika kita masih diberikan oleh Allah SWT umur panjang sehingga kita masih bisa bertemu dengan bulan suci ini. Seyogianya kita mempersiapkan diri dengan penuh suka cita atas kedatangan tamu istimewa ini. Bulan ketika setiap amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya.

Masih banyak di kalangan umat Islam yang belum mengetahui makna dan rahasia yang sebenarnya ada di dalam bulan Ramadhan ini. Kegembiraan dengan ramainya shalat Tarawih, shalat Tahajud di masjid-masjid, dan kebersamaan keluarga dalam sahur dan buka puasa. Belum lagi keutamaan dalam bersedekah pada bulan suci ini merupakan hal yang tidak boleh kita lewatkan. Memberi makan seorang yang sedang berpuasa mendapatkan pahala yang besar. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang memberikan jamuan buka puasa kepada seseorang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala yang sama dengannya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.”

Pada ulama dan ahli hikmah, menjalani ibadah puasa tidak hanya menitikberatkan pada puasa lahiriah, tetapi juga puasa dengan menghadirkan seluruh jiwanya hanya untuk Allah. Mereka menyadari bahwa di dalam bulan suci ini, dijanjikan pada 10 hari awalnya rahmah, 10 berikutnya ampunan dari Allah (maghfirah), dan 10 hari terakhir bebas dari apa neraka (itqun minannar).

Janji Allah ini menjadi daya tarik yang besar bagi orang yang ahli ibadah, karena mereka beribadah dengan hati yang bersih yang mengharapkan keridhaan Allah SWT. Bagi mereka puasa lahiriah hanya merupakan sarana penunjang agar mendapatkan kedekatan dengan Sang Khaliq, menunduk kepada Yang Maha Kuasa dan merasakan dekapan kasih sayang-Nya dalam hidup ini.

Di dalam bulan ini pun Allah SWT menitipkan tanggung jawab untuk menyantuni hamba-hamba yang dhaif atau para dhuafa kepada kita semua. Apakah panggilan tanggung jawab ini kita sambut dengan baik, ataukah kita tidak menghiraukannya karena hati kita telah terpenuhi dengan cinta dunia.

Belum lagi manfaat puasa dari tinjauan kesehatan. Banyak ahli yang memberikan uraian tentang keunggulan dan manfaat puasa bagi seseorang. Tidaklah heran karena ibadah ini diperintahkan oleh Allah SWT untuk kebaikan manusia itu sendiri. Seperti ditegaskan sabda Rasul Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim, “Berpuasalah maka kamu akan sehat.” Hadis ini bisa dibuktikan dengan banyak pendapat para ahli kedokteran dan menjadi daya tarik penelitian bagi para ahli medis. Manfaat yang jelas diketahui, diantaranya memperbaiki kondisi kesehatan seseorang, seperti memperbaiki radang usus besar, menyehatkan jantung, mengurangi resistensi insulin yang memicu diabetes, mengurangi risiko kanker, mengurangi berat badan, dan lain-lain.

Semua ini menunjukkan bahwa ibadah puasa ini mempunyai keistimewaan yang luar biasa, multidimensi yang mencakup ibadah batiniah dan lahiriah. Sayang dari tahun ke tahun sebagian dari kita terjebak dengan persiapan diri yang bersifat lahiriah. Ramai dengan buka puasa bersama, yang dalam acara tersebut diisi dengan tausiyah oleh sang ustaz, dan setelah selesai shalat Tarawih dilanjutkan bincang-bincang bersama hadirin. Tidak jarang mereka tergelincir dalam ghibah, namimah, dan lain-lain yang termasuk dalam penyakit hati yang sangat dilarang oleh agama, tidak hanya dalam bulan puasa, tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Akankah kita terus menjalankan puasa di dalam bulan Ramadhan ini sama dengan tahun-tahun yang lalu tanpa peningkatan kualitas ibadah kita? Atau mungkin puasa kita hanya sampai sebatas luarnya tanpa bisa merasakan kelezatan ibadah puasa ini. Maaf, kelihatannya puasa kita baru sampai pada tingkat lahiriah saja. Marhaban ya Ramadhan.