Puncak dari keburukan di dunia ini adalah kekafiran. Tidak ada lagi keburukan yang lebih besar dari pada kekafiran dan tidak ada lagi dosa yang lebih berat sesudah kekafiran. Hal itu dikarenakan perbuatan orang kafir itu sendiri yang menyebabkan ia terusir dari rahmat Allah SWT.

Dalam konteks ini Allah berfirman :

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

(Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa kemusyrikan, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dosa (kemusyrikan) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Qs An-Nisa:48

Oleh karena itu, barangsiapa yang telah masuk dalam kemusyrikan atau kekafiran, meskipun ia diberi dunia seisinya, tetap merupakan keburukan baginya. Sebab apapun yang ia ambil dan ia nikmati, sesungguhnya kesenangan duniawi hanyalah sedikit sekali.

Meskipun ia diselimuti harta kekayaan, pangkat dan kekuasaan, namun ia tetap akan berpisah dengannya. Allah SWT berfirman :

إن شر الدواب عند الله الذين كفروا فهم لا يؤمنون

{Sesungguhnya binatang melata yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman). Qs Al-Anfal: 55

Kita tahu bahwa binatang melata tidak mempunyai akal pikiran, karena itu ia tidak bisa berpikir dan tidak bisa memahami peristiwa, la hanya dikendalikan oleh insting, sedangkan insting itu adalah jujur.

Jika anda mendatangkan makanan untuk binatang-binatang itu misalnya, akan anda dapatinya hanya mengambilnya secukupnya saja. Jika anda rangsangdengan makanan apapun, ia tetap menolaknya karena instingnya mengendalikannya seperti itu, yakni menerima makanan sekedar kebutuhannya saja.

Anda juga bisa temukan binatang-binatang itu tidak melakukan hubungan seksual kecuali dengan sekedar untuk mempertahankan keturunannya saja. Kalau binatang betina sedang bunting misalnya, ia tidak bersedia didekati seekor pejantan.

Tetapi orang-orang kafir, mengapa mereka disebut-sebut sebagai seburuk-buruk binatang melata di atas bumi? Mengapa demikian?

Binatang tidak punya akal pikiran, ia punya tugas di dunia ini yang ia jalankan tanpa bantuan akal pikiran, namun demikian ia mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan sempurna, la mengangkut beban berat dan menjalankan pekerjaan apa saja sesuai dengan permintaan pemiliknya, atau sesuai dengan tujuan diciptakannya.

Tetapi manusia yang diberi kemampuan memilih, anda melihatnya memadati perutnya dengan ma­kanan.

Dikatakan kepadanya: kamu belum makan kue yang ini dan belum mencicipi hidangan yang itu. la tidak menghormati prinsip bahwa Allah SWT melarangnya berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, sehingga perutnya kekenyangan dan tidak bisa bergerak. Demikian pula seksual baginya berubah fungsi menjadi kegemaran dan kesenangan, bukan menjadi sarana untuk memelihara keturunan.

Allah SWT mengistimewakan manusia dengan akal pikiran supaya ia gunakan merenungkan ayat-ayat Nya yang tersebar di alam raya, dan meyakini bahwa alam raya ini ada Penciptanya, tetapi ia yang seharusnya mendayagunakan akal pikiranya untuk tujuan suci tersebut, justru menyalahgunakannya sebagai sarana untuk keingkaran dan kekafiran yang menjauhkan dirinya dari Allah SWT dan menyeretnya ke lembah kemaksiatan.

Seakan-akan ia mengesampingkan keistimewaan besar yang Allah anugerahkan kepada manusia itu, bahkan ia menjadikan akal pikirannya berubah fungsi, dengan demikian ia-pun berubah status dari manusia menjadi seburuk-buruk hewan yang melata di bumi.

Pada penutup kajian ini, kami katakan secara garis besar bahwa paradigma yang benar tentang baik dan buruk menurut sudut pandang Islam duniawi dan dan ukhrawi ialah amal perbuatan baik yang ditujukan kepada Allah SWT dan diharapkan pahalanya di akhirat.

Maka setiap apa yang datang dari Allah SWT merupakan kebaikan, demikian pula setiap amal perbuatan yang ditujukan kepada Allah adalah kebaikan. Sedangkan keburukan di alam raya ini terjadi karena akibat pilihan manusia yang dapat merusak alam raya dan merusak pula kehidupan di dalamnya serta aturan perundang-undangan yang ada, dengan dugaan bahwa ia membangun, padahal ia merusak.

Allah SWT menyediakan bagi kita berbagai kenikmatan dan segala sesuatu yang bermanfaat, tetapi kita merusaknya dengan mengubah fungsinya menjadi alat yang menyengsarakan umat manusia. Manusia menderita dampak dari campur tangan yang menjadi pilihan manusia itu sendiri.

Di alam raya ini terdapat stok makanan yang mencukupi kebutuhan seluruh makhluk Allah semenjak Nabi Adam Alaihis-salam hingga hari kiamat. Tetapi egoisme manusialah yang merusak segala sesuatunya.

Egoisme itu yang membuat sebagian manusia tega menghancurkan rezeki Allah, dari pada mereka berikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Dunia ini merupakan sarana untuk akhirat yang mengantarkan anda ke surga atau ke neraka (Semoga Allah melindungi kita semua).

Jika dunia int telah berubah fungsi menjadi tujuan, maka ia pasti menimbulkan kesengsaraan bagi manusia, membuat manusia merusak kekuatan dirinya dan melakukan hal-hal yang mendatangakan kemarahan Tuhannya, mendurhakai Tuhannya dan akhirnya ia tidak mendapatkan apa-apa dari dunia itu.

Kebaikan hanya ada pada apa yang dipilihkan oleh Allah. Manusia tidak memiliki ilmu dan pengetahuan yang dapat ia jadikan sandaran untuk menilai peristiwa-peristiwa. Manusia tidak mampu menembus masa yang akan datang untuk menguak hasil apa yang terjadi pada masa sekarang.

Ketidak senangan kita terhadap sesuatu tidak serta merta menjadi ukuran bahwa sesuatu yang tidak kita se­nangi itu buruk bagi kita. Karena bisa jadi kita tidak senang terhadap sesuatu, padahal Allah SWT menaruh di dalamnya kebaikan yang banyak. Bisa jadi pula kita menyenangi sesuatu, padahal Allah menjadikan di dalamnya keburukan yang amat besar.

Jika kita menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, haruslah hati kita merasa rela dengan ketetapan takdir Allah, karena ketetapan takdir Allah senantiasa membawa kebaikan. Barangsiapa yang merasa rela hati menerima ketetapan takdir-Nya. maka Allah membimbingnya ke jalan yang lurus.

Sumber : Terj. Al Khoir wa Syar, Karya As-Syeikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi