Sebagai seorang muslim hendaknya kita memiliki akhlak mulia. Dalam islam hal ini sudah dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau dalam setiap ucapan, tingkah laku dan apapun selalu mencerminkan perilaku akhlak terpuji.

Mulai dari cara bicaranya, cara makannya dan minumnya, cara jalannya, cara berinteraksi dengan sesama muslim dan non muslim, bahkan sampai cara buang airpun telah menjadi contoh akhlak dalam kehidupan sehari hari.

Lalu kita tertanya-tanya apa itu pengertian akhlak ? Akhlak adalah sikap baik yang ditunjukkan melalui lisan, perbuatan dan melalui hati. Apa itu akhlak melalui llisan? Berbicara yang baik, jangan berkata kotor.

Apa itu akhlak melalui perbuatan? Akhlak yang ditunjukkan melalui sikap kita, seperti; menyingkirkan batu, ranting pohon dari tengah jalan, menunjukkan yang haq dan mencegah yang bathil. Apa itu akhlak dengan hati? Akhlak yang tidak tampak, seperti; ikhlas, tawadhu’, pemaaf. Jangan  sampai memiliki akhlak tercela seperti; sombong, riya’, dengki, hasad. 

Rasulullah Muhammad SAW semua kehidupannya adalah suri tauladan. Akhlak rasulullah adalah mulai sejak beliau kecil sampai beliau wafat. Tidak ada 1 pun yang tidak patut dicontoh dari rasulullah.

Kita sebagai umat beliau hendaknya sedikit-sedikit menirulah walaupun tak bisa semua ditiru. Dalam kaidah islam popular dengan “Kalau tak bisa contoh semua jangan ditinggal semua.” Berikut beberapa hadits tentang akhlak mulia;

Dari Abdullah bin Amr bin Ash R.hum, Rasulullah SAW bersabda

“Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kamu sekalian adalah yang paling baik budi pekertinya.” (HR. Bukhori – Muslim)

Dari Abu Darda R.hum, Rasulullah SAW bersabda

“Tiada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin nanti di hari kiamat, melebihi budi pekerti yang baik. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)

Kita lihat semasa hidup beliau hidup mandiri, mengembala kambing, berjualan, bersikap adil, jujur, penolong, pemaaf, mengajak pada kebenaran, mencegah kemungkaran. Lisan beliau tidak pernah menyakiti, orang lain, dll. Tidak ada manusia di bumi ini yang patut dijadikan contoh melainkan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Kita boleh mencontoh akhlak dari tokoh-tokoh tertentu, akan tetapi itu masih belum ada seujung kuku akhlak Rasulullah.

Dalam Al Qur’an Allah SWT. memberikan ayat tentang akhlak dalam Surat Al A’raf: 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”

Surat Al Ahzab: 48

وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung”

Dalam Surat Al Fushilat: 35-36

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid menjelaskan  bahwa akhlak adalah terjemahan dari hati dan jiwa yang diterjemahkan melalui anggota badan. Bilamana kita membaca nama-nama Allah SWT (Asmaul Husna) ambillah sifat itu untuk kita contoh. Misalkan kita membaca sifat Allah Maha Pengampun, ambillah sifat itu supaya kita mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Bila kita memabaca sifat Allah Maha Pemurah, ambillah sifat itu supaya kita mudah menolong / pemura kepada orang lain. Ini adalah sifat-sifat indah Allah, maka berakhlaklah dengan sifat-sifatNya. Ambillah sifat sabar menghadapi orang lain melalui sifat Allah Yang Maha Penyabar.

Terkadang ada orang bersifat mulia tapi tidak nampak, seperti sifat Karim (Pemurah). Kapan orang disebut pemurah? Kalau ikut hukum kebiasaan, disebut pemurah kalau dia suka memberi, suka berbagi hadiah. Tapi bagaimana kalau seseorang itu miskin?

Apa tidak bisa punya sifat pemurah? Untuk mengetahui seorang yang miskin itu pemurah adalah bilamana hatinya pemurah, yakni bilamana dia berharta dia akan mensedekahkan hartanya. Walaupun dia tak ada duit, walaupun tak ada apa-apa. 

Dikisahkan bahwa salah seorang dari Bani Israil yang miskin datang ke suatu kampong untuk mencari makan. Setelah tiba di kampong dia melihat penduduk itu juga miskin dan kelaparan. Kemudian dia duduk di bawah pohon, dia melihat ada tumpukan pasir.

Dia berandai-andai “Andai tumpukan pasir ini berubah menjadi gandum, aku akan sedekahkan pada orang kampong yang kelaparan itu.” Kemudian Allah hantarkan Nabi di zaman itu untuk memberi tahu dia bahwa sedekahnya sudah diterima Allah SWT.

Tapi terkadang,ada juga orang yang zahirnya nampak baik, nampak indah, nampak senyum tapi di dalam “Aku senyum cuma mau tunjuk saja.” Allah menilai yang di dalam hati. Senyum ada senyum sinis juga. Oleh karena itu hiasi akhlak baik luar maupun dalam. Jadi akhlak adalah sifat baik /  uruk yang tersimpan di dalam hati tercermin melalui anggota badan

Malaikat Jibril berkata pada Rasulullah “Wahai Rasulullah Muhammad, ambillah sifat maaf.” Nabi Muhammad bertanya “Wahai jibril bagaimana aku mengambil sifat maaf?” Malaikat Jibril menjawab “Biarkan aku bertanya kepada Yang Maha Mengetahui.” Kemudian malaikat jibril kembali pada Allah dan bertanya pertanyaan tersebut.

Allah menjawab “Memaafkan itu sambung silaturahim kepada orang yang memutuskan, beri kepada orang yang tak mau beri kepadamu.” Ini kalau bukan hati sebesar gunung tak akan mampu, tapi siapa yang ingin akan dibantu oleh Allah sWT, asal mau saja. Kalau tidak ini akan menjadi sekedar teori tanpa practice. 

Muga-muga Allah jadikan akhlak kita menjadi akhlak karimah dan dihiasai dengan budi pekerti yang baik. Amiiin

Sumber: Al Qur’an, Hadits Nabi

Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid

Darul Murtadza