Semua orang memang tak lepas dari ujian Allah. Ujian dari Allah bisa berupa sakit, kematian, kemiskinan atau apa saja.

Seseorang tidak mampu mengelak dari ujian Allah. OMustahil orang hidup di dunia tapi tidak diuji, pasti diuji. Akan tetapi orang yang bijak adalah orang yang mencari hikmah di sebalik ujian.

Mungkin kita diuji oleh Allah dengan kemiskinan, kekurangan di dalam harta. Peganglah konsep “Mungkin saja kau tak suka pada sesuatu tapi itu sebenarnya mendatangkan kebaikan bagi kamu”

Dikisahkan oleh Guru kami, Al Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid bahwasanya, dahulu pernah berlaku di zaman Rasulullah SAW. Ada seorang bernama Tsa’labah, yang didalam hatinya ada yang tidak baik. Dia datang kepada rasulullah dan mengatakan “Ya Rasulullah doakan aku menjadi orang kaya.”

Dijawab oleh Rasulullah “Wahai Tsa’labah, sedikit yang kamu dapat itu lebih baik daripada kamu dapat banyak tapi kamu tak mampu untuk memikulnya.” Mendengar jawaban Rasulullah seperti itu Tsa’labah tak puas hati, dipaksa lagi Rasulullah untuk mendoakan. Bginda Rasulullah menjawab dengan njawaban yang sama. Dipaksa lagi sampai 3x Tsa’labah memaksa Rasulullah.

Dia tidak menyerahkan apa yang terbaik menurut Allah dan Rasulnya, maknanya dia tak mau menerima nasehat Nabi Muhammad. Akhirnya setelah dipaksa, didoakanlah Tsa’labah

Selang beberapa waktu, Tsa’labah memiliki kambing jantan dan betina. Kambingnya Beranak pinak seperti ulat, yakni sangat banyak.

Tsa’labah yang kebiasaannya datang ke masjid untuk sholat berjama’ah bersama Rasulullah mulai sibuk dengan kambing-kambingnya, sehingga dia datang di waktu maghrib dan isya’ saja. Hari demi hari kambing Tsa’labah terus bertambah banyak, maghrib dan isya’ pun tak datang juga, kecuali di hari jum’at.

Hari terus berganti, Tsa’labah terus sibuk dengan kambingnya. Jumlah Kambing Tsa’labah hampir memenuhi 2 lembah gunung, jum’at pun tak datang.

Tibalah 1 tahun waktu untuk membayar zakat. Nabi Muhammad SAW mengutus 2 orang untuk memungut zakat dari Tsa’labah. Dahulu sebelum kaya, Tsa’labah berjanji pada Rasulullah SAW bahwa dia kalau akan tolong ini, bantu itu,  sedekah ini, dst. Dia punya planning tapi tak ada kesungguhan.

Tibalah 2 utusan Rasulullah SAW ke rumah Tsa’labah. Mereka membawa bukti bahwa mereka diutus Rasulullah untuk mengambil zakat darinya. Tsa’labah berkata “Ini seperti jizyah!” Masya Allah, dia telah menyamakan zakat seperti jizyah. Apa itu jizyah ? Pajak untuk orang bukan islam. Iman Tsa’labah tidak kuat, dia telah memutar balikkan hukum Allah dalam hal zakat.

Kemuydian Tsa’labah mengatakan pada Rasulullah “Kamu ambil ke tempat yang lain dulu, kalau sudah nanti kamu kemari lagi.” Tertanam di hatinya sifat pelit / kikir, karena kambingnya sudah banyak. Semakin banyak kambing yang dia miliki maka semakin banyak pula  yang wajib dia zakatkan. Tsa’labah berfikir 1000x untuk menyerahkan kambing-kambingnya sebagai zakat.

Setelah 2 utusan tadi selesai mengambil zakat dari orang lain, mereka kembali kepada Tsa’labah. Tsa’labah mengatakan “Aku ingin berfikir lagi.” Akhirnya 2 utusan ini kembali pulang karena tidak menerima zakat dari Tsa’labah. Mereka kembali berjalan menuju Rasulullah SAW.

Dari kejauhan Rasulullah tidak melihat kedua utusannya membawa kambing-kambing, Rasulullah sudah tahu dan sadar bahwa Tsa’labah tidak keluarkan zakat. Maka nabi pun bersabda “Celakalah Tsa’labah.” Dulu Nabi Muhammad sudah ingatkan padanya “Sedikit kamu bersyukur itu lebih baik daripada banyak kamu tak mampu untuk pikul.”

Bukankah seharusnya kita bersyukur dalam keadaan yang sedikit tapi mampu mengeluarkan yang wajib, daripada kita punya harta banyak tapi tak mampu untuk mengeluarkan yang diwajibkan. Turunlah firman Allah kepada Nabi Muhammad yang melarang beliau menerima zakat dari Tsa’labah. 

Datanglah Tsa’labah kepada Rasulullah untuk membayar zakat “Aku ingin keluarkan zakat.” Rasulullah menjawab “Aku sudah dilarang Allah SWT.” Hal ini berlaku sampai Nabi wafat dan digantikan oleh Sayyidina Abu Bakar. Tsa’labah ingin keluarkan zakat, dijawab oleh Abu Bakar

“Orang yang lebih baik (Nabi Muhammad) dari pada aku tak menerima zakatmu, lalu bagaimana aku harus menerima?” Berganti kekhalifahan, dipimpin oleh Sayyidina Umar bin Khattab.

Kambing Tsa’labah terus bertambah banyak. Dia ingin keluarkan zakat lagi, kata Sayyidina Umar “2 orang lebih baik (Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar) daripada aku tidak menerima, bagaimana kau menerimanya?” Sampai meninggal dia di zaman Sayyidina Utsman bin Affan.

Itulah sepenggal kisah dari zaman Rasulullah SAW. Pelajaran yang dapat kita petik adalah Sedikit kamu bersyukur itu lebih baik daripada banyak kamu tak mampu untuk pikul. Siapa yang tahu rahasia yang terbaik untuk kita? Allah SWT. kata Al Imam Al Habib Ali Al Habsy mengatakan “Biasakan kamu nyaman dengan tidak diberi oleh Allah.

Sesungguhnya sikap ridho adalah sikap penghambaan yang telus dari seorang hamba pada Allah. Kalau bermain di hati kita ada perasaan tidak ridho dan tidak puas hati, maka bangkitlah kalian dari kelalaian ini. Jangan sekali-kali berburuk sangka kepada Allah SWT. Jadikanlah pintu harapan sebagai hubungan kamu dengan Allah SWT.” Tetaplah berdiri dihadapan pintu Allah SWT.

Semoga kisah teladan diatas mampu memberi kita pelajaran berharga, agar kita menerima segala ketentuan Allah walaupun pahit, walaupun sakit dengan hati yang ridho, sebab kita tak tahu rahasia indah yang Allah siapkan dibalik kepahitan dan kesakitan itu. Amiiinn.

SUMBER : HABIB ALI ZAENAL ABIDIN AL-HAMID