Bahgian 1

Satu seminar membahas ilmu dasar nasab silsilah keluarga Rasulullah Muhammad s.a.w yang telah disampaikan serta disediakan oleh Al-Habib Syed Ali Zainal Abidin bin Hassan bin Al Ali bin Abdullah Assegaff dari sebuah badan nasab dari Jakarta Indonesia, yaitu Naqobatul Asyrof Al-Kubro yang dianjurkan Persatuan Kebajikan Asyraaf Cawangan Sarawak di Kuching pada beberapa bulan lepas.
Al-faqier nak petik dari bukunya, bab pertama, Masuknya islam dan peranan Alawiyyin.

Menurut penyelidikan para ahli sejarah bahawa masuknya agama islam ke Jawa pada tahun 30H/650M di zaman Khalifah Usman bin Affan R.A.

Sulaiman as-Sirafi, pengelana dan pedagang dari pelabuhan Siraf di Teluk Persi mengatakan bahwa di Sili terdapat beberapa orang islam pada masa dia, yaitu sekurang-kurangnya pada abad ke-2 Hijriah.

Hal ini sesuatu yang telah pasti dan tidak perlu pen-tahqiq-an lagi kerana perdagangan rempah-ratus dan wangi-wangian yang berasal dari kepulauan Maluku pasti membuat pedagang-pedagang Muslimin sering berkunjung ke sana dank e tempat-tempat yang berdekatan dengan kepulauan ini.

Menurut pengarang buku Nukhbah ad-Dahr, Kepulauan Sili/Sila adalah Sulawesi dan pulau-pulau yang berdekatan dengannya. Lautan disebut Laut Sala. Demikian pula yang diterangkan oleh Sir Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java.
Hubungan antara negeri-negeri Arab dengan kepulauan ini belansung sebelum dan sesudah islam. Bangsa Arab sebelum islam termasuk di antara pedagang-pedagang yang menerima barang-barang dagangan itu. Banyak kapal mereka yang melintasi lautan tersebut dengan membawa rempah-ratus dan bahan-bahan lainnya yang diperlukan oleh Yunani dan Romawi. Hal ini dikemukakan oleh Syaikh Abi Ali al-Marzuqi al-Asfihani dalam bukunya al-Azminah wa al-Amkinah. Ibn Jarir dalam buku sejarahnya menyebutkan hal itu pada dua tempat. Syaikh Syamsuddin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib ad-Dimasyqi yang terkenal dengan nama Syaikh ar-Rabwah dalam bukunya Nukhbah ad-Dahr, setelah menguraikan dengan panjang lebar tentang pulau-pulau Sila, Sala (Sulu), Yaqut, Sabah, dan Alwiyah, serta menjelaskan pulau-pulau yang sekarang dinamakan Filiphina, selanjutnya mengatakan:

“Sekelompok Alawiyin telah memasuki pulau-pulau itu di waktu mereka melarikan diri dari golongan Bani Umayyah. Mereka lalu menetap dan berkuasa di sana sampai mati dan dikuburkan di kepulauan itu yang letaknya di sebelah utara lautan ini. Bila seorang asing memasuki kepulaun ini maka ia tidak ingin meninggalkannya walaupun ia tidak hidup dengan mewah”

Ketika menjelaskan tentang negeri Sanf yaitu yang meliputi semua daerah yang terletak sesudah negeri Burma, ia mengatakan sebagai berikut:

“Dakwah islam telah sampai ke sana di zaman Khalifah Usman. Di sanalah singgah golongan Alawiyyin yang lari dari Bani Umayyah dan al-Hajjaj. Mereka menyeberangi laut Zefti dan tinggal menetap di pulau yang terkenal dengan nama Mirela”. Menurut keterangan yang disebutkan oleh ad-Dimasyqi berada di Laut Cina. Di tempat lain ia mengatakan, “Sili berada di Laut Zefti Timur.”

Syihabuddin Ahmad Abdul-Wahab an-Nuwairi dalam bukunya Nihayah al-Arab, yang ditulis dalam 25 jilid, di halaman 220 jilid pertama mengatakan:

“Di sebelah timur negeri China ada enam pulau lagi yang dinamakan Kepulauan Sila. Penduduknya adalah golongan Alawiyin yang dating ke sana kerana melarikan diri dari Bani Umayyah.”

Sejarawan, Taqiyuddin Ahmad bin Ali al-Maqrizi dalam bukunya al-Khuthath al-Maqriziah, halaman 25 jilid 1 memberikan keterangan:

“Di sebelah timur laut ini sesudah Cina ada enam pulau yang terkenal dengan nama kepulauan Sila di mana telah datang sejumlah golongan Alawiyin pada permulaan islam kerena mereka takut dibunuh.”

Nuruddin Muhammad Aufi, pelancong bangsa Persia, menerangkan:

“Setelah penindasan atas golongan Asyraf (para syarif) Alawiyyin di masa Daulah Umayyah kian bertambah keras,maka berhijrahlah sebahagian antara mereka itu ke perbatasan Cina. Di sana mereka mendirikan perumahan yang mereka tempati di tepi sungai-sungai. Mereka berdamai dengan kaisar Cina dan tunduk kepada pemerintahannya sehingga Kaisar memberikan pertolongan kepada mereka.”

Yang dimaksudkan oleh pelancong Persia ini dengan nama CINA ialah meliputi pulau-pulau Timur Jauh. Demikianlah istilah yang biasa dipakai pada waktu itu, sebagaimana diternagkan oleh penulis Yaqut al-Hamawi dalam bukunya Mujam al-Buldan ketika ia menceritakan tanah Jawa.

Dalam buku Sejarah Tanah Jawa karangan Fruin Mees, jilid 11 halaman 8, dikatakan sebagai berikut:

“Sunnan Kalijaga hidup pada abad keenam di Kerajaan Kadilangu, dekat Demak. Di sanalah terdapat sebuah masjid terkenal yang didirikan pada tahun 874H/1468M. sebelum itu Demak dinamakan Bintara. Di masa itu di sana terdapat masjid yang paling kuno. Sudah semestinya, kaum muslim ada di sana ketika itu.”

Syaikh Abu Ali al-Asfihani dalam bukunya al-Azminah wa al-Amkinah yang selesai dikarang pada taun 453H/1061M mengatakan bahawa pedagang-pedagang India, Sind, orang-orang dari Timur dan Barat berkumpul di Sahar di pantai Oman, lalu berlayar ke Daba, kemudian ke Syihir (Syihir Mahrah) dan terus ke Aden.

http://assagaf.blogspot.com