Sebagaimana dikatakan oleh banyak orang tua dulu, kepada  seorang wanita yang sedang hamil,

“Janganlah engkau menjadi pemarah. Nanti putramu akan seperti itu juga.” Dikatakan pula kepada suami dari wanita yang hamil itu,

“Jangan engkau memancing ikan disaat istrimu mengandung. Karena akan menyebabkan bibir anakmu nanti dalam keadaan sumbing.”,

“Jangan suka menjewer telinga orang karena ditakutkan kuping anakmu nanti tidak sempurna”,

“Jangan engkau membunuh binatang buruan karena takut anakmu mati dalam kandungan”.

Sebenarnya kata-kata orang tua tersebut diatas memang tidak ada dasar berupa hadits maupun ayat Al-Quran, hanya saja  ada sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Nabi SAW yang berkaitan dengan hal itu, yaitu sebagai berikut:

إِذَا أَطَاعَنِيْ عَبْدِيْ رَضِيْتُ عَنْهُ , وَ إِذَا رَضِيْتُ عَنْهُ بَارَكْتُ فِيْهِ وَ فِيْ أَثَارِهِ , وَ لاَ نِهَايَةَ لِبَرَكَتِيْ , وَ إِذَا عَصَانِيْ عَبْدِيْ سَخَطْتُ عَلَيْهِ , وَ إِذَا سَخَطْتُ عَلَيْهِ لَعَنْتُهُ , وَ لَعْنَتِيْ تَلْحَقُ السَّابِعَةَ مِنْ وَلَدِهِ

Jika seorang dari hambaku melaksanakan sebuah ketaatan kepadaku, maka aku akan ridho kepadanya. Dan jika aku ridho kepadanya, maka aku berkahi dirinya dan semua hal yang berkaitan dengannya.

Dan ketahuilah bahwasanya keberkahanku tidak ada batasnya. Dan jika seseorang dari hambaku berbuat maksiat kepadaku, maka aku murka kepadanya. Dan kalau aku murka kepadanya, aku akan laknat dia.

Dan ketahuilah bahwasanya laknatku akan sampai kepada keturunannya yang ketujuh.

Maka berdasarkan hadits qudsi di atas, keberkahan dari pada orang tua itu akan mengalir dan menular serta sampai kepada anak cucunya. Begitu pula kejahatan atau keburukan perilaku dari pada orang tua yang tentunya akan menyebabkan atau mengakibatkan murka Allah kepadanya, itu juga berpengaruh kepada anak cucunya.

Sebagaimana hal itu diceritakan dalam surat Al-Kahfi dimana Nabi Khidhir  dan Nabi Musa diperintahkan untuk memperbaiki dan membangun kembali tembok bangunan yang akan runtuh. Maka kemudian ketika ditanyakan oleh Nabi Musa maksud dan sebab dari pada membangun kembali dan meluruskan tembok yang sudah akan runtuh itu,

dijawab oleh Nabi Khidhir yang bersumber dari pada wahyu Allah bahwasanya hal itu dilakukannya karena dibawah tembok itu terdapat harta simpanan untuk dua anak yatim. Dan hal itu dijaga oleh Allah karena ayah dari keduanya itu orang sholih.

Padahal ahli tafsir mengatakan bahwasanya bukan ayahnya langsung yang sholih akan tetapi kakeknya yang ke tujuh. Berkat kesholihan kakek yang ketujuh tersebut Allah menjaga harta yang tersimpan di bawah tembok itu untuk kedua yatim itu.

Maka dari itu penting kiranya kedua orang tua, baik calon ayah maupun calon ibu untuk mendapatkan seorang anak yang akan menjadi sebuah investasi yang menguntungkan bagi akhirat keduanya,

hendaknya menjaga perilaku dan juga situasi dan lingkungan sekitar keberadaan calon ibu dan calon ayah sesuai dengan arahan dan anjuran Nabi SAW dalam agamanya. Juga berdasarkan hadits Nabi yang berbunyi:

الشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ وَالسَّعِيْدُ مَنْ سَعِدَ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ

Seorang yang celaka itu adalah yang ditetapkan celaka dalam perut ibunya. Dan orang yang bahagia itu adalah yang ditetapkan bahagia semenjak di perut ibunya.[1]

Para ulama’  mengartikan hadits tersebut sesuai dangan dhohirnya yang dikuatkan dengan hadits Nabi yang lainnya, yaitu Allah telah menetapkan untuk setiap orang rizqi, ajal, maupun bahagia atau sengsaranya dia kelak di akhirat,

ketika dia berada dalam rahim ibunya saat usia kehamilan 120 hari. Akan tetapi sebagian ulama’ juga mengartikan bahwasanya perilaku dan kondisi yang terjadi dan dilakukan oleh kedua orang tua dari janin yang ada di dalam rahim ibunya, itu sangat berpengaruh kepada anak yang dikandungnya.

Jika kedua orang tuanya berperilaku baik saat kehamilan, baik dalam perilaku dhohir maupun perilaku bathin, begitu pula berada dalam lingkungan dan situasi yang positif, maka anak yang akan dilahirkan akan menjadi baik.

Sedangkan sebaliknya, jika kedua orang tuanya bukan termasuk orang yang baik, dan situasi serta lingkungan dari kedua orang tuanya berada dalam lingkungan yang negatif, maka hal itu juga akan berpengaruh kepada anak yang dikandungnya, baik dari segi psikis maupun segi moralitasnya bahkan juga akan berpengaruh kepada fisiknya.

Oleh karena itu, pasangan suami istri yang sedang mengandung janin dalam rahimnya, untuk menjaga perilaku lingkungan maupun situasi hatinya supaya dampak positif yang akan tampak  pada janin yang dikandungnya

Diantara perkara-perkara yang dianggap positif dan baik serta menunjang kebaikan dari anak yang dikandung dengan melakukan perkara-perakara dibawah ini

Banyak membaca Al-Qur’an terutamanya surat-surat yang berkaitan dengan nama-nama para nabi atau nama-nama dalam Al-Qur’an. Semisal surat Muhammad, surat Maryam, surat Thoha, surat Luqman, dan lain-lain. Jadi hendaknya calon ibu sering membaca surat-surat tersebut dengan harapan anak yang dilahirkan nantinya akan menjadi seperti mereka yang menjadi nama-nama dari surat Al-Qur’an.

Hendaknya kedua orang tua berperilaku baik dengan berakhlaqul karimah terhadap siapapun juga di antara sesama lebih-lebih kepada keluarga dan kerabat.

Kedua calon ibu dan ayah berusaha untuk menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Dengan harapan anak yang akan dilahirkan seperti keduanya bahkan lebih, yaitu juga berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi S:

بِرُّوْا آبَاءَكُمْ تَبِرُّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ

Berbaktilah kalian kepada kedua orang tua kalian, maka niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian.[2]

Para ulama’ Mengomentari hadits itu dengan mengatakan bahwasanya setiap orang yang berbakti kepada orang tuanya akan mendapat tiga kabar gembira, yaitu sebagai berikut:

Dia akan ditaqdirkan panjang umur hingga dia menikah dan mempunyai anak.

Dia ditaqdirkan untuk mendapatkan seorang anak dari perkawinannya.

Jika Allah mentakdirkan untuknya sebuah anugrah berupa anak, maka anak itu akan menjadi anak yang berbakti kepadanya sebagai balasan baginya karena telah berbakti kepada kedua orang tuanya.

Memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi SAW. Karena membaca sholawat kepada Nabi SAW merupakan sebuah amal ibadah yang pasti akan diterima, bagaimanapun keadaan orang yang membacanya.

Bahkan walaupun dengan sifat riya’ ataupun karena sombong membacanya, tetap dia akan mendapatkan pahala. Sehingga dengan begitu, diharapkan keberkahan dari pada sholawat tersebut akan menular dan sampai kepada anak yang akan dilahirkan.

Hendaknya memperbanyak melaksanakan sholat malam, yaitu sholat Tahajjud. Karena yang demikian itu akan mendekatkan diri kedua orang tua terhadap Allah.

Dan jika kedua orang tua tersebut bangun pada waktu tahajjud, maka dia akan mendapatkan biasan cahaya serta rahmat Allah yang turun pada sepertiga malam yang terakhir. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam sebuah hadits.

Hendaknya calon ayah dan ibu dari bayi yang dikandung menjauhkan diri dari segala macam maksiat. Baik dari dosa besar maupun dosa kecil. Seperti perzinaan, pencurian, kedzaliman, bertransaksi riba, menyakiti oang lain, tidak baik kepada tetangga, dan lain-lain.

Karena hal itu dapat berdampak negatifyang sangat berpengaruh kepada anak yang akan dilahirkannya, maka dari itu umumnya anak yang dilahirkan di luar nikah bersifat tidak baik dikarenakan pengaruh negatif dari kedua orang tua biologisnya.

[1]HR. Abu Huroiroh

[2]HR. Abu Huroiroh