Peranan Vital Para Habaib dan Ulama dalam Sejarah Kemerdekaan RI

SEJARAH YANG DILUPAKAN

Penggerak Kemerdekaan dan Pemasangan Bendera Merah Putih sebagai simbol kemerdekaan
– Sayyidina Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang
– Sayyidina Al-Habib Ali bin Husein Al-Atthas Bungur
– Sayyidina Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan

Perancang Lambang Garuda Indonesia
– Al-Habib Asy-Syarif Abdul Hamid Al-Kadrie

Pengarang Lagu Kemerdekaan 17 Agustus 1945
– Al-Habib Husein Al-Muthahhar

عيد الاستقلال الاندونسية 17 اغسطس 1945

 

Hari Jum’at 9 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan 17 Agustus 1945 M, al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi mengumumkan kepada jamaah yang hadir pada shalat Jum’at di Masjid Kwitang bahwa, “Negara ini telah diproklamirkan kemerdekaannya.”
 
Dan Habib Ali memerintahkan agar seluruh umat Islam memasang bendera negara Indonesia yang berwarna Merah dan Putih di rumah dan kampungnya masing-masing.
 
Dan Habib Ali Kwitang menegaskan agar apa yang diumumkannya hari itu diberitahukan pula kepada yang belum mengetahuinya.
 
Kabar tentang pengumuman oleh Habib Ali Kwitang cepat menyebar di kalangan masyarakat Jakarta khususnya para ulama dan habaib.
 
Guru Mansur dari Jembatan Lima yang mendengar maklumat dari sang guru tersebut, langsung membuat bendera Merah Putih dan dipasangnya di atas menara Masjidnya.
 
Al-Habib Ali bin Husein al-Athas Bungur tidak ketinggalan pula ikut memasang bendera Merah Putih di depan kediamannya.
 
Begitupun al-Habib Salim bin Jindan yang memasang bendera di depan rumahnya, sampai-sampai banyak masyarakat yang bertanya kepadanya: “Ya Habib Salim, gerangan apa dan kenapa bendera warna Merah Putih kau kibarban di depan rumahmu?”
 
Habib Salim menjawab: “Apa kalian tidak mendengar kabar bahwa negeri ini telah merdeka? Ketahuilah, negeri ini telah merdeka! Dan lambang dari kemerdekaannya adalah bendera Merah Putih ini.
 
Sudah kalian jangan banyak tanya lagi, lekas kalian buat bendera Merah dan Putih lalu pasang di rumah kalian. Kalau ada yang tanya, bilang kalau negeri ini sudah merdeka.”
 
Karena banyaknya masyarakat Jakarta yang tiba-tiba memasang bendera Merah Putih di rumahnya, membut gusar penjajah Jepang yang masih belum rela menerima kemerdekaan Indonesia.
 
Para tentara Jepang pun dikerahkan untuk mencabut paksa bendera Merah Putih yang telah dipasang oleh masyarakat khususnya di kediaman para tokoh. Tidak ketinggalan penggeledahan dilakukan di rumah al-Habib Ali Kwitang.
 
Namun beliau enggan untuk menurunkannya. Hingga akhirnya Habib Ali Kwitang pun ditahan oleh penjajah Jepang.
 
Terjadi pula pada Guru Mansur yang diminta menurunkan bendera dari menara Masjidnya.
 
Akan tetapi Guru Mansur tetap mempertahankannya meskipun menara masjid itu diberondong dengan peluru. Yang pada akhirnya Guru Mansur ditahan oleh Jepang.
 
Pada akhirnya, pihak Jepang merasa kewalahan karena semakin banyaknya orang yang ditahan dan mengakibatkan tidak cukupnya ruang tahanan.
 
Lalu, dengan sangat terpaksa pihak Jepang pun membebaskan masyarakat yang di dalamnya ada juga para ulama dan habaib. Penjajah Jepang hanya bisa pasrah dengan masyarakat Jakarta yang mendukung kemerdekaan Negara Indonesia. (Ust. Anto Djibril)
 
Note:
 
1. Yang sebenarnya memang tanggal 9 Ramadhan 1364 H bukan 17 Ramadhan seperti yang umum selama ini diberitakan. Dengan melihat Almanak terdahulu, hari Jum’at pada bulan Agustus tanggak 17 tahun 1945 adalah 9 Ramadhan. Dan itu bisa dicek di penanggalan dan Almanak lama (Ust. A. Djibril).
 
2. Saya tidak berpatokan pada lembar-lembar tanggalan (kalender), tetapi saya berpatokan pada alasan Bung Karno yang saya dapatkan langsung secara mutawattir. (Ust. Jihad).
 
Andil Para Ulama dan Habaib Jakarta Merebut Kemerdekaan Indonesia
Dulu di Jakarta (Betawi), bertebaran para Jawara yang sebagian mereka adalah juga para ulama. Sebutlah di era tahun 1920an nama Guru Marzuki dari Muara merupakan ulama Betawi yang disegani oleh pihak Belanda.
 
Penjajah Belanda sangat memperhitungkan para ulama Betawi yang tak mempan rayuan dan tak takut pelor senapan.
Sewaktu Syaikh as-Surkati dari Sudan didatangkan pihak Belanda untuk diperbantukan di Madrasah Jamiatul Kheir, banyak ulama dan habaib yang khawatir dengan fahamnya.
 
Guru Marzuki dengan lantang berkata: “Kalo berani Si Sorkati masuk Mester, ane timpe lak-lakannya…”
 
Perkataan Guru Marzuki sontak membuat Syaikh Surkati tidak berani masuk wilayah Mester, yang terbilang pada masa itu sangat luas. Pada akhirnya pihak Belanda memanggil Guru Marzuki di kantor Mester Cornelis (sekarang menjadi Ex Kodim di depan Stasiun Jatinegara).
 
Di sana Guru Marzuki dimintai pertanggungjawabannya dengan tuduhan mencemarkan rasa tidak aman pada seseorang.
 
Dengan enteng Guru Marzuki berkata di depan Pejabat Belanda: “Hei Tuan-tuan, apa Anda tau arti lak-lakan?”
Mendengar hal demikian pihak Belanda terdiam, dan Guru Marzuki melanjutkan perkataannya: “Biar Tuan-tuan tau ya, nyang namenye lak-lakkan itu ade di dalam tenggorokon.
 
Masa iye (Guru Marzuki sambil mengepalkan tangannya) saye punya tangan muat masuk lak-lakkan? Ada-ada saja tuduhan Tuan ini yang tidak masuk akal.”
 
Dengan kecerdikannya Guru Marzuki menjawab pertanyaan pihak Belanda, yang pada akhirnya urung ditahan.
 
Beda lagi dengan Guru Mahmud Romli dari Pasar Rumput, seorang ulama yang disegani. Sampai-sampai Sinyo Belanda jika lewat depan rumahnya dengan kuda, maka mesti turun dari kudanya saking segannya dengan Guru Mahmud.
 
Di tahun 1930-1940an dikenal Sayid Gadir (Habib Abdul Qadir al-Haddad) Kebon Nanas yang sangat disegani penjajah Belanda dan Jepang.
 
Beliaulah yang mendampingi Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang ber-tasawir (pidato) di Keramat Luar Batang, karena waktu itu ada beberapa gangguan dari para penjajah.
 
Tahun 1945 dikala Indonesia menyatakan kemerdekaannya, di Jakarta suasana mencekam karena Belanda berusaha datang lagi.
 
Turunlah mereka di pelabuhan Tanjung Priuk dengan peralatan perangnya yang bertujuan ingin merebut kembali Jakarta. Namun hal itu dicegat oleh kelompok para ulama yang menamakan dirinya “Laskar Hizbulloh” di bawah koordinator KH. Ahmad Mursidi, H. Darip, KH. Noer Ali dan para ulama beserta jamaahnya yang berkumpul di bilangan Matraman.
 
Hal itulah yang membuat pihak Belanda melancarkan tembakannya ke arah para ulama dan jamaahnya. Dengan kalimat Takbir mereka maju tanpa takut sedikitpun.
 
Belanda pun dibuat kewalahan. Berondongan peluru tidak mempan. KH. Ahmad Mursidi berteriak: “Masih ade lagi pelornye? Kalo abis, nih boleh Ente pungutin sendiri!”
 
Belanda dibuat takjub dengan tangan kosong H. Darip membalikan mobil-mobil pengangkut tentara penjajah. Belanda merasa kewalahan, tapi tetap kelompok ulama dan jamaahnya masih kalah jumlah.
 
Akhirnya upaya membendung kedatangan Belanda sedikit alot. Karena pihak ulama dan jamaahnya merasa letih, pihak Belanda pun dapat memukul mundur sampai ke perbatasan Bekasi.
 
Perburuan Belanda terhadap para ulama dan jamaahnya terjadi. Dan itu yang membuat Gerilya dari Laskar Hizbulloh yang imbasnya Jakarta tidak jatuh ke tangan Belanda untuk ke dua kalinya.
 
Belum lagi di awal-awal masuknya Jepang ke Jakarta. Banyak para ulama dan habaib yang sebab mempertahankan pendiriannya, dipaksa masuk penjara. Diantara mereka ialah Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur dan Habib Salim bin Jindan.
 
Bahkan waktu itu Habib Ali Kwitang satu sel dengan KH. Agus Salim. Tapi itu tidak berlangsung lama karena pihak Jepang akhirnya bersimpati dan menaruh hormat pada para ulama dan habaib.
 
Terbukti pihak Jepang selalu mengirim utusan di setiap acara keagamaan yang diselenggakan di Majelisnya Habi Ali Kwitang.
 
Melihat perkembangan Peperangan Asia Raya, para ulama Jakarta yang dimotori Guru Kholid Gondang, akhirnya membentuk barisan pemuda penjaga Tanah Air. Hal itu pun disetujui oleh pihak Dai Nipon, sebagaimana diterbitkan dalam Harian-harian kabar pada waktu itu.
 
Inilah secuil kisah yang menceritakan andil besar para ulama Jakarta merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. 
 
Sumber : www.padhang-mbulan.org