Hilal Merah Indonesia, SULAWESI TENGAH – Perdagangan hasil budidaya laut, merupakan pusat pergerakan ekonomi khususnya bagi warga pesisir di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Pasca gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut, aktivitas para nelayan seolah ‘mati suri’. Sementara untuk pemulihan serta pergerakan roda ekonomi warga, khususnya para korban tertuju pada pencarian hasil tangkap ikan.

Lantaran mereka terbentur dalam suatu musibah, maka perputaran ekonomi ‘stagnan’ alias lumpuh total. Kini, mereka sudah tak mampu lagi membeli sebuah perahu untuk menafkahi keluarganya.

Hal inilah yang menjadi program utama di bidang sosial DPP HILMI dan DPD FPI Sulteng untuk menjawab semua persoalan yang dialami oleh para nelayan.

Sebagai program awal pemulihan ekonomi nelayan di wilayah Mamboro dan Batu Sampu, DPP HILMI dan DPD FPI Sulteng sebelumnya telah mewujudkan keinginan para nelayan disana dengan memberi pengadaan perahu, dan hingga kini masih dalam tahap proses pembuatan.

Hari ini, Minggu 17 Februari 2019, DPP HILMI bekerjasama dengan Rabithah Alawiyyah dan Alkhairat Palu yang akan diwakili oleh Habib Ali Al Jufry dalam waktu dekat akan menemui para nelayan di Loli Saluran, Kabupaten Donggala.

Pertemuan dengan para nelayan yang digelar kali ini, bertempat di rumah Pejabat Sementara, Bapak Safrudin yang dihadiri oleh Imam Masjid Babul Jannah, Bapak Adi, serta Sekretaris Daerah (Sekda) DPD FPI Sulteng, Ustad Mahmud beserta para Laskar LPI

“Kami memutuskan untuk kembali membeli perahu, untuk ke-16 nelayan yang merupakan korban tsunami. Mereka akan dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 1 unit perahu untuk 4 orang dengan ukuran panjang 5 meter dan lebar 60 cm dengan harga Rp. 4,5 -5 jutaan,” ungkap Ustad Mahmud Khaemudin kepada media HILMI-FPI, Minggu malam (17/2/2019).

Sementara untuk harga mesin Katingting merek Honda 5,5 PK berharga sekitar Rp. 2,7 juta ditambah pembelian as nya merek KKK seharga Rp. 1 juta. Jadi 1 unit perahu berkisar Rp. 8,2 jutaan. Total keseluruhan biaya pembelian perahu sekitar Rp. 32,8 jutaan untuk 4 unit perahu.

“Alhamdulillah, Rabithah dan Al Khaerat menyumbang sebesar Rp. 30 juta, dan Insya Allah dalam waktu dekat nanti,  perwakilan Rabithah dan Al Khaerat Palu, Habib Ali Al Jufry akan datang ke lokasi pembuatan perahu tersebut untuk memesan 4 unit dan selanjutnya akan dinikmati oleh ke-16 nelayan tersebut,” kata Ustad Mahmud.

Sumber: HILMI